Ratu Arwa binti Ahmad al-Sulayhi adalah salah satu tokoh perempuan paling penting dalam sejarah Yaman dan dunia Islam abad pertengahan. Ia bukan sekadar ratu simbolik, melainkan penguasa berdaulat penuh yang memerintah dengan otoritas politik dan keagamaan.
Ratu Arwa lahir sekitar tahun 1048 M dari keluarga bangsawan Sulayhid. Ia menikah dengan al-Mukarram Ahmad bin Ali al-Sulayhi, penguasa Dinasti Sulayhid yang berhaluan Ismailiyah dan berafiliasi dengan Kekhalifahan Fatimiyah di Kairo.
Setelah suaminya jatuh sakit dan kemudian wafat, Arwa secara bertahap mengambil alih kekuasaan. Pada 1091 M, ia diakui secara resmi sebagai penguasa Yaman. Yang membuatnya unik, namanya disebut dalam khutbah Jumat, sesuatu yang sangat langka bagi seorang perempuan pada masa itu, menandakan pengakuan kedaulatan penuh.
Ia memindahkan ibu kota kerajaan ke Jiblah (kini wilayah Provinsi Ibb) dan membangun istana serta Masjid Agung Jiblah yang hingga kini masih berdiri. Dari kota inilah ia mengendalikan wilayah luas Yaman bagian barat dan tengah.
Ratu Arwa dikenal sebagai pemimpin yang cerdas dan pragmatis. Ia berhasil menjaga stabilitas politik di tengah persaingan klan dan dinasti, sekaligus mempertahankan hubungan strategis dengan Kekhalifahan Fatimiyah. Bahkan, ia diberi gelar kehormatan keagamaan oleh Imam Fatimiyah.
Dalam struktur Ismailiyah, Arwa bukan hanya penguasa politik, tetapi juga otoritas keagamaan tertinggi di Yaman. Ia memimpin jaringan da‘i dan administrasi dakwah, menjadikannya satu-satunya perempuan dalam sejarah Islam yang memegang otoritas spiritual setingkat itu.
Masa pemerintahannya berlangsung lama, lebih dari 40 tahun, hingga wafat pada 1138 M. Setelah kematiannya, Dinasti Sulayhid melemah dan Yaman kembali terfragmentasi ke dalam dinasti-dinasti regional.
Warisan Ratu Arwa bersifat ganda. Di satu sisi, ia dikenang sebagai simbol kepemimpinan perempuan dalam Islam. Di sisi lain, namanya kerap digunakan dalam perdebatan politik modern, sering kali dengan penafsiran sejarah yang diselewengkan untuk mendukung klaim teritorial atau ideologis.
Dalam sejarah akademik, Ratu Arwa dipahami sebagai penguasa dinasti pegunungan Yaman yang memiliki pengaruh atas kota-kota penting, termasuk Aden, tetapi bukan sebagai pendiri atau penguasa tunggal wilayah pesisir tersebut.
Singkatnya, Ratu Arwa adalah ratu besar Yaman, negarawan ulung, dan figur langka dalam sejarah Islam, yang kekuasaannya nyata dan diakui lintas wilayah—namun harus dipahami sesuai konteks zamannya, bukan dipaksakan ke peta politik modern.
0 Komentar