Melihat Pengembangan Roket MLRS Afghanistan


Kemampuan Afghanistan memproduksi amunisi lokal kembali menjadi perbincangan setelah muncul klaim penggunaan roket BM-21 dengan amunisi campuran dari berbagai negara. Pertanyaan yang muncul bukan sekadar soal asal roket, tetapi sejauh mana Afghanistan sebenarnya mampu memproduksi roket sendiri.

Selama puluhan tahun konflik, Afghanistan memang dikenal mampu membuat berbagai jenis amunisi lokal. Mulai dari peluru senapan, amunisi RPG, mortir rakitan, hingga bahan peledak improvisasi. Kemampuan ini terbukti menopang perang gerilya dalam jangka panjang.

Namun, kemampuan tersebut sering disalahartikan seolah setara dengan produksi roket artileri modern. Padahal, ada perbedaan mendasar antara amunisi infanteri atau RPG dengan roket artileri seperti BM-21 Grad kaliber 122 mm.

RPG dan roket rakitan jarak pendek dirancang untuk jangkauan ratusan meter hingga beberapa kilometer. Akurasi kasar masih dapat diterima, dan risiko teknis dianggap sebagai bagian dari perang asimetris. Standar keselamatan pun relatif longgar.

Sebaliknya, roket BM-21 adalah senjata artileri jarak jauh. Roket ini harus terbang stabil hingga puluhan kilometer, diluncurkan secara salvo, dan tidak boleh gagal di dalam tabung peluncur. Sedikit cacat produksi dapat berakibat fatal bagi awaknya sendiri.

Di sinilah batas kemampuan Afghanistan terlihat jelas. Negara ini tidak memiliki industri propelan padat militer, metalurgi presisi, maupun fasilitas uji balistik yang dibutuhkan untuk memproduksi roket 122 mm standar militer secara konsisten.

Meski demikian, Afghanistan tetap bisa memproduksi apa yang disebut sebagai “roket alternatif”. Roket jenis ini biasanya memiliki jangkauan lebih pendek, akurasi rendah, dan kualitas yang tidak seragam antar unit. Fungsinya lebih ke penekan psikologis daripada senjata artileri presisi.

Fenomena ini bukan hal baru dalam konflik modern. Banyak kelompok bersenjata di Timur Tengah memproduksi roket lokal untuk mengisi kekosongan logistik ketika stok amunisi standar menipis.

Analogi yang sering digunakan adalah perbandingan dengan Indonesia. Indonesia mampu memproduksi roket R-Han 122, tetapi pada tahap awal pengembangannya, roket ini diakui belum setara dengan roket Grad Soviet yang sudah matang puluhan tahun.

R-Han 122 merupakan contoh nyata bahwa memproduksi roket bukan perkara hitam putih bisa atau tidak bisa. Indonesia memiliki industri pertahanan, laboratorium uji, dan sumber daya manusia, tetapi tetap membutuhkan waktu panjang untuk menyempurnakan propelan, akurasi, dan konsistensi produksi.

Ketika disebut “tidak secanggih aslinya”, itu bukan berarti gagal. Istilah tersebut merujuk pada jangkauan yang masih terbatas, toleransi produksi yang lebih longgar, dan belum adanya varian berpemandu seperti yang dimiliki negara besar.

Perbedaan inilah yang juga berlaku pada Afghanistan, namun dengan jarak yang jauh lebih lebar. Jika Indonesia berada dalam fase transisi teknologi, Afghanistan masih berada pada tahap improvisasi lapangan.

Roket alternatif buatan lokal Afghanistan mungkin bisa diluncurkan dari peluncur BM-21, tetapi performanya tidak akan menyamai roket standar 9M22U. Risiko kegagalan juga jauh lebih tinggi, baik dari sisi akurasi maupun keselamatan.

Karena itu, Afghanistan dan negara lain cenderung lebih memilih stok roket lama buatan Soviet atau negara lain. Secara militer, menggunakan amunisi lama yang sudah teruji jauh lebih rasional dibanding mengandalkan roket rakitan penuh risiko.

Pasar gelap internasional juga menjadi faktor penting. Roket 122 mm masih beredar luas di Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika, membuat impor tidak resmi lebih mudah dibanding membangun industri dari nol.

Roket lokal tetap memiliki tempat dalam strategi perang asimetris. Ia murah, cepat dibuat, dan cukup untuk gangguan atau intimidasi. Namun perannya tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan sistem artileri roket standar.

Dalam konteks ini, Afghanistan bukan pengecualian, melainkan contoh ekstrem dari keterbatasan industri militer. Negara ini mampu bertahan dengan improvisasi, tetapi tidak mampu melompat ke produksi senjata kompleks tanpa fondasi industri.

Perbandingan dengan Indonesia justru memperjelas kesimpulannya. Jika negara dengan industri pertahanan mapan saja membutuhkan waktu panjang untuk menyempurnakan roket 122 mm, maka Afghanistan tentu menghadapi tantangan berlipat ganda.

Karena itu, klaim bahwa Afghanistan “bisa membuat roket” harus dipahami dengan konteks yang tepat. Yang bisa dibuat adalah roket alternatif, bukan roket artileri modern dengan standar militer penuh.

Pada akhirnya, roket lokal adalah solusi sementara, bukan pengganti. Baik Afghanistan maupun negara lain menunjukkan bahwa kemandirian roket adalah proses panjang yang membutuhkan industri, bukan sekadar kemampuan bengkel.

Kesimpulannya jelas: Afghanistan bisa memproduksi roket alternatif, sebagaimana Indonesia memulai R-Han 122 dari tahap awal, tetapi untuk mencapai kualitas roket standar seperti BM-21 Grad, dibutuhkan fondasi industri dan teknologi yang jauh melampaui kemampuan lokal saat ini.

Baca selanjutnya

Posting Komentar

0 Komentar