Gerakan Penyelamatan Awdal Menguat di Somalia


Kabar besar datang dari wilayah Awdal di barat laut Somalia dengan diumumkannya pembentukan Awdal Salvation Movement. Gerakan ini digagas oleh para intelektual Awdal serta mantan politisi Somaliland yang secara terbuka menentang proyek separatisme dan upaya pengakuan internasional Somaliland.

Dalam pernyataannya, para pendiri gerakan menegaskan bahwa Awdal Salvation Movement bertujuan “menyelamatkan Awdal” dari dominasi milisi SNM dan pemerintahan Hargeysa. Gerakan ini dipimpin oleh Sultan Wabar sebagai pemimpin tertinggi, figur tradisional yang memiliki pengaruh kuat di kalangan masyarakat Awdal.

Pemerintah Federal Somalia disebut siap memberikan dukungan politik dan moral terhadap gerakan ini. Dukungan tersebut dipandang sebagai langkah strategis Mogadishu untuk menegaskan kembali kedaulatan Somalia atas wilayah yang selama ini disengketakan.

Pembentukan Awdal Salvation Movement sekaligus menegaskan bahwa proyek Somaliland dinilai rapuh dan tidak realistis. Sejak lama, status wilayah Somaliland dipenuhi sengketa batas wilayah, baik di sisi timur maupun barat, yang membuat peluang pengakuan internasional kian jauh.

Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada Sool, Sanaag, dan Cayn sebagai wilayah yang menolak otoritas Hargeysa. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Awdal juga berada dalam posisi serupa, meski selama bertahun-tahun kurang mendapat sorotan.

Ketegangan di Awdal disebut menguat setelah lengsernya Dahir Riyale Kahin, tokoh asal Awdal yang sebelumnya memimpin Somaliland. Kepergiannya melalui proses pemilu membuat sebagian warga Awdal merasa kehilangan perlindungan politik dan representasi di pusat kekuasaan Hargeysa.
Keluhan masyarakat Awdal terhadap pemerintahan Somaliland sebenarnya telah berlangsung lama. Isu keterbelakangan pembangunan, minimnya representasi politik, praktik nepotisme, korupsi, hingga ketidakadilan hukum menjadi daftar panjang kekecewaan yang terus menumpuk.

Ketika pemerintahan baru dibentuk di Hargeysa pada 2010, berbagai persoalan tersebut dinilai semakin nyata. Warga Awdal merasa bahwa janji kesetaraan dan demokrasi hanya menjadi slogan tanpa realisasi di lapangan.

Di sisi lain, para pendukung Awdal Salvation Movement menekankan bahwa Awdal memiliki sejarah panjang dan membanggakan. Wilayah ini diyakini sebagai bagian dari salah satu peradaban dan kesultanan tertua di Tanduk Afrika.

Awdal kerap disebut sebagai pusat awal lahirnya identitas dan nasionalisme Somalia. Dari wilayah inilah muncul tokoh legendaris Ahmed Gurey, atau Ahmed the Left-Handed, yang hingga kini dikenang sebagai simbol perlawanan dan inspirasi sejarah.

Selain nilai historis, Awdal juga memiliki kekayaan budaya dan sumber daya yang signifikan. Reruntuhan Kesultanan Adal serta sejumlah masjid kuno menjadikan wilayah ini memiliki arti penting, tidak hanya bagi Somalia tetapi juga bagi dunia Islam.

Awal tahun ini, diaspora Somalia asal Awdal di Amerika Utara dan Eropa mendeklarasikan pembentukan Awdal State sebagai bagian dari Republik Federal Somalia. Deklarasi tersebut secara tegas menolak gagasan separatisme Somaliland.

Deklarasi Awdal State dengan cepat menyebar ke berbagai kota dunia dan memicu aksi dukungan, termasuk demonstrasi di wilayah Awdal sendiri. Situasi ini disebut membuat pemerintahan Hargeysa bereaksi keras.

Aparat keamanan Somaliland membubarkan demonstrasi dan menangkap sejumlah aktivis. Tekanan juga diberikan kepada politisi dan tetua adat Awdal agar menyatakan kesetiaan pada proyek Somaliland.

Meski demikian, banyak tokoh adat memilih bersikap hati-hati dan tidak secara terbuka menolak gerakan Awdal State. Dukungan kuat diaspora Awdal di luar negeri menjadi faktor penting dalam sikap tersebut.

Pemerintah Hargeysa dan para pendukungnya di luar negeri berupaya meremehkan gerakan ini dengan menyebutnya sebagai fantasi segelintir pemuda diaspora. Narasi tersebut dinilai mirip dengan cara rezim otoriter menghadapi gelombang protes di berbagai negara.

Bagi pendukung Awdal Salvation Movement, dinamika ini justru menandai awal perubahan besar. Mereka menyebutnya sebagai bagian dari “Musim Semi Somalia” yang membuka peluang reformasi dan persatuan nasional.

Gerakan ini juga mengusung pendekatan politik dari bawah ke atas, menekankan peran komunitas lokal dalam menentukan arah pembangunan dan pemerintahan. Model ini dianggap lebih sesuai dengan realitas sosial Somalia.

Beberapa pekan lalu, perwakilan Awdal dari berbagai negara berkumpul di London untuk memilih kepemimpinan Awdal State. Mereka berharap pemerintahan baru kelak mampu membebaskan rakyat dari ketidakadilan dan kemiskinan struktural.

Ke depan, pimpinan Awdal Salvation Movement dan Awdal State direncanakan akan menjalin komunikasi intensif dengan Mogadishu, negara-negara kawasan, serta aktor internasional. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat posisi Awdal dalam kerangka Somalia bersatu.

Posting Komentar

0 Komentar