Manuver Politik Jenderal Mazloum Abdi Menarik Perhatian Media Suriah


Manuver politik Jenderal Mazloum Abdi pimpinan angkatan bersenjata pemerintahan NES (sebelumnya Rojava) bernama SDF menarik perhatian media Suriah.

Pertama saat dia menemukan dua partai Kurdi yang berseteru untuk mencapai kata sepakat antara PYD partai penguasa di SDC parlemen NES berskala nasional dengan KNC, aliansi partai yang mempunyai sayap militer Peshmerga Rojava.

SDF sendiri adalah angkatan bersenjata yang mencakul kelompok Arab namun tetap didominasi oleh YPG sayap militer PYD. Mazloum Abdi adalah pimpinan tertinggi YPG yang dianggap oleh Turki dan NATO merupakan organisasi teroris karena menjadi cabang Suriah partai terlarang di Turki PKK.

Turki sangat marah dengan AS karena lebih memilih bekerja sama dengan YPG saat mendirikan SDF untuk menggulingkan pemerintahan ISIS di Raqqa. Turki ingin yang digunakan adalah KNC dengan sayap militernya Peshmerga Rojava.

Namun, belakangan diketahui bahwa AS dan sekutu ternyata sudah lama berkolaborasi dengan YPG/PKK yang artinya menghianati Turki reka sesama anggota NATO.

KNC mendapat dukungan dari pimpinan Kurdistan Irak namun pasukan yang dilatih di Kurdistan tidak bisa masuk ke Suriah karena dihalangi oleh SDF.

KNC merupakan anggota Koalisi Oposisi Suriah (SOC) atau sering dikenal juga sebagai Koalisi Nasional Suriah (SNC) yang kini mempunyai pemerintahan eksekutif bernama pemerintahan interim Suriah atau SIG dan angkatan bersenjatanya bernama SNA. 

SOC/SNC merupakan pemerintahan tandingan yang legitimate yang diakui oleh Uni Eropa, Turki, AS dll sehingga dialog PYD dan KNC dinilai sebagai dorongan AS agar NES/SDF mempunyai legitimasi legal dan tidak lagi dikelompokkan menjadi organisasi teroris.

Dengan demikian NES menjadi bagian dari pemerintahan SIG. Walau begitu, KNC juga mempunyai kursi minoritas di parlemen tandingan KNC.

PYD kurang menyukai KNC karena sejak awal khususnya saat adu kekuatan menguasai Rojava dan belakangan saat SNA dilibatkan dalam menguasai beberapa wilayah Kurdi di utara Suriah. KNC dinilai memihak kepada Turki walau KNC juga mengkritik kebijakan Turki.

Sementara itu, KNC juga menuduh PYD bekerja sama dengan Assad khususnya saat melawan Turki dan menilai pemerintahan NES dan KNC bersikap otoriter dalam menjalankan tugasnya sebagaimana Assad.

Walau sejak awal KNC memilih pengikut yang lebih besar, namun dukungan AS ke PYD membuat banyak pihak di wilayah NES yang beralih dukungan. Apalagi saat Peshmerga Rojava tidak diikutkan oleh AS untuk diintegrasikan dengan SDF.

Namun sejak PYD dan KNC berkawan kembali, peluang rekonsilisasi antara NES dan SIG menjadi lebih tinggi. 

AS memilih cara ini karena Rusia melakukan hal yang sama untuk mendekatkan PYD ke rejim Assad. Menurut pengamat, jika suatu saat NES ditinggal AS, maka besar kemungkinan PYD akan menjadi sekutu Assad. Namun jika Assad bersikap garang ke NES maka kemungkinan PYD akan memihak ke SIG/SNC.

Di sini cerdasnya Jenderal Mazloum Abdi karena membuat NES/SDF rebutan berbagai pihak yang bertikai di Suriah.

Manuver berikutnya adalah pendekatan personal Jenderal Mazloum Abdi ke kelompok-kelompok Arab di NES.

Walau SDF dilaporkan bersikap otoriter ke warga Arab yang tidak memihak, namun sang jenderal tetap menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh lokal.

Walau begitu banyak yang menilai bahwa loyalitas Arab ke NES/SDF lebih didasarkan kepada ketakutan, karena dalam menjalankan misinya SDF sering menuduh setiap Arab yang tak mendukung sebagai ISIS atau simpatisan ISIS.

Langkah berikutnya dari Sang jenderal adalah dengan memberikan otonomj ke unit-unit kecil untuk beroperasi.

Misalnya, saat SNA menguasai Afrin dan SDF akhirnya memutuskan mundur karena AS sempat ingin menarik diri, SDF membentuk Afrin Liberation Movement untuk mengganggu atau kalau bisa merebut kembali Afrin. Begitu juga di daerah lainnya yang dikuasai SIG.

Cara ini cukup ampuh karena SDF tidak perlu mengeluarkan biaya menggaji atau memobilisasi warga lain ke lokasi. Cukup dengan memanfaatkan penduduk Afrin yang terusir dalam sebuah majelis militer lokal yang mandiri dan otonom.

Berbeda dengan SNA dan Turki yang harus memobilisasi pejuang dari Idlib di bawah kontrol SIG ketika menguasai Afrin.

Karena pejuang tersebut tidak berasal dari Afrin, akhirnya mereka berperang bukan karena ingin tanah mereka kembali, tapi karena gaji dan peluang mendapat bisnis cek poin.

Akhirnya usai Afrin direbut, banyak faksi di di SNA yang berperang satu sama lain untuk menguasai sektor ekonomi. Banyak korban yang jatuh walau akhirnya berhasil diredam SNA.








Posting Komentar

0 Komentar