Presiden Bashar Al Assad pernah diisukan ingin mengundurkan diri saat adiknya Jenderal Maher Al Assad, Panglima Divisi Keempat mengalami patah tulang dalam sebuah insiden melawan oposisi.
Walaupun itu hanya rumor, namun masuk akal karena bersamaan juga tewas Menhan/Panglima Angkatan Bersenjata Suriah dan sejumlah pejabat lainnya.
Wilayah rejim Bashar Al Assad juga pernah mengecil sampai 15 persen di tahun 2015 saat ISIS kuasai hampir 1/2 wilayah Suriah.
Assad bahkan dicurigai oleh dunia internasional berkolaborasi mendukung ISIS yang sebagian pimpinannya adalah eks kader Partai Baath, sama seperti Assad, dan eks militer Saddam Hussein.
Saat itu, pemerintahan Assad harus mengimpor minyak mentah dai wilayah ISIS yang kuasai hampir semua ladang minyak Suriah.
Namun usaha gigih Iran, Rusia, Hezbollah, milisi Palestina, milisi Irak dan Houthi membuat posisi terbalik.
Apalagi AS dan sekutunya, Turki (di Al Bab), Israel, Yordania dll bahu membahu melawan ISIS dengan SDF di lapangan.
Saat ini sebagian wilayah ISIS dikuasai kembali oleh Assad dan sebagian lagi oleh pemerintahan NES/SDF.
Seharusnya Assad berterima kasih kepada Turki, AS dll yang berhasil melumpuhkan ISIS. Apalagi dalam usaha melawan ISIS itu, Turki menggunakan pasukan SNA oposisi hingga akhirnya penguasaan ke Aleppo melemah dan berhasil direbut Assad.
Namun saat Turki ingin membangun zona aman untuk pengungsi di utara Suriah agar SDF tidak menembakkan rudal sembarang ke Turki, Assad marah besar begitu juga SDF.
SDF lalu meminta bantuan Assad menjaga perbatasan saat pasukan AS sempat ingin ditarik walau tak jadi.
Hampir saja SDF ingin menyetujui permintaan Assad untuk berintegrasi dengan militer rejim, namun akhirnya ditolak karena AS ternyata tetap berada di Suriah.
Parlemen SDF/NES bernama SDC akhirnya diundang Assad untuk berbicara damai.
SDC membuat syarat agar NES tetap diakui secara formal sebagai pemerintahan otonomi Rojava dalam pemerintahan federal Suriah sebagai imbalan jika harus menarik diri dari wilayah Arab yang dikuasainya, eks wilayah ISIS seperti Raqqa, Der Ezzour dll yang menyimpan 70 persen ladang migas Suriah.
Namun, dulu Assad yang hampir pernah mengundurkan diri itu kini jual mahal dan menghentikan pembicaraan dengan SDC. Alasannya sedang sibuk perang melawan Idlib yang dikuasai pemerintahan penyelamat Suriah (SG).
Assad mungkin tahu, bahwa jika NES/SDF tidak tunduk pada permintaannya, maka wilayah Kurdi yang dikuasai pemerintahan sementara Suriah (SIG) akan sulit untuk dikembalikan.
Dan, alasan fokus melawan SG di Idlib juga sebenarnya tidak terlalu benar, karena justu kedua pemerintahan, SG dan rejim, sudah membuka cek poin masing-masing untuk lalu lalang transportasi secara non formal. Artinya secara de facto, Assad akui SG sebagai penguasa Idlib.
Jika mengambil skenario rekonsiliasi di Daraa, minus operasi senyap membunuh eks oposisi, maka SG diperkirakan akan lebih mudah rekonsiliasi dengan rejim dibandingkan ke SIG.
Dulu, wilayah Daraa itu dikuasai pasukan oposisi fron selatan, dikenal saat itu dengan istilah FSA, sekarang SNA.
Namun karena berbagai manuver politik antara Assad, Rusia, Hezbollah, Iran, milisi Palestina dan Israel, akhirnya kelimpok oposisi bergabung dengan rejim dan diintegrasikan ke militer Assad.
Panglimanya, Jenderal Ahmad Al Audeh kini memimpin Korps Kelima yang menjadi saingan Divisi Keempat.
Pasukan Daraa ini pula yang digunakan Rusia menghantam Idlib, bekas kawan, hingga akhirnya wilayah SG berkurang jauh hampir ke perbatasan Turki.
0 Komentar