Pekan pertama Januari 2026 mencatat eskalasi serius di utara Aleppo antara pasukan pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi. Dalam tiga hari terakhir, bentrokan intens telah berlangsung di dua lingkungan penting, Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh, setelah pasukan pemerintah menguasai sebagian besar kontrol atas Ashrafieh dan mengalihkan fokus operasi mereka ke Sheikh Maqsoud.
Serangan ini merupakan salah satu eskalasi paling tajam sejak jatuhnya rezim Assad, dengan pemerintah Suriah meminta warga sipil untuk meninggalkan kawasan yang menjadi target operasi militer melalui pemberlakuan jam malam penuh di Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh serta beberapa lingkungan sekitarnya. Dua wilayah ini selalu berusaha memancing kerusuhan saat Damaskus ingin bergabung dengan SDF di Timur Suriah.
Pemerintah Suriah menyatakan pihaknya menganggap semua posisi SDF di dua lingkungan ini sebagai sasarannya yang sah secara militer, setelah menolak damai dan menegaskan bahwa operasi dilancarkan untuk menghentikan apa yang diklaim sebagai agresi oleh kelompok bersenjata tersebut.
Di lapangan, bentrokan termasuk penembakan artileri berat, serangan mortar, dan serangan drone, yang telah mengakibatkan sejumlah korban sipil dan kerusakan infrastruktur penting, termasuk fasilitas publik dan rumah warga.
Sebagai akibat eskalasi ini, ribuan warga sipil telah mengungsi dari Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh menuju wilayah lain di Aleppo yang dikendalikan pemerintah atau provinsi lain di Suriah, mencari tempat aman jauh dari tembakan dan kekerasan.
Data kemanusiaan awal menunjukkan angka pengungsi mencapai puluhan ribu jiwa, dengan jumlah yang terus bertambah setiap harinya karena koridor evakuasi dan bantuan masih sulit diatur.
Sementara itu, menurut beberapa laporan kelompok advokasi lokal, konflik ini terjadi meskipun terdapat perjanjian integrasi militer sebelumnya antara pemerintah Suriah dan SDF pada 2025, yang gagal sepenuhnya diimplementasikan sehingga memicu ketidakpercayaan dan bentrokan lanjutan.
Organisasi kemanusiaan dan HAM menyatakan keprihatinan bahwa eskalasi ini mengancam lebih dari 250.000 warga sipil di kedua lingkungan tersebut, termasuk keluarga yang telah lama tinggal di kawasan ini dan mereka yang sebelumnya mengungsi dari daerah lain.
Intensitas tembakan dan serangan berat telah menyebabkan peningkatan korban sipil; media lokal melaporkan puluhan tewas dan korban luka-luka, termasuk di antara anak-anak dan perempuan, serta hilangnya nyawa personel militer dari kedua pihak.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, sumber dari lapangan melaporkan bahwa beberapa bagian Ashrafieh dan Sheikh Maqsoud mulai diserahkan kepada otoritas Suriah, termasuk melalui defeksi anggota SDF atau mundurnya unsur milisi lokal, memicu pergeseran kontrol di beberapa titik.
Dalam perkembangan tersebut, pasukan keamanan internal pemerintah Suriah telah mulai dikerahkan untuk memperluas kendali dan meredam sisa-sisa perlawanan di Ashrafieh, menandakan langkah berlanjut menuju konsolidasi keamanan oleh otoritas pusat.
Namun, kawasan tersebut tidak sepenuhnya bebas dari bentrokan. Beberapa unit SDF atau afiliasinya masih dilaporkan melakukan serangan artileri atau tembakan sporadis ke wilayah yang sebelumnya mereka kuasai, menunjukkan bahwa konflik belum usai sepenuhnya.
Di tengah kekacauan tersebut, muncul juga pernyataan dari sejumlah organisasi Suriah yang menyerukan penghentian operasi militer dan perlindungan terhadap warga sipil sesuai hukum humaniter internasional, serta kembali ke jalur negosiasi politik.
Pernyataan bersama dari kelompok advokasi ini menyoroti bahwa konflik di Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya dan membutuhkan dialog nasional sebagai satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan.
Lebih dari itu, pernyataan ini menegaskan bahwa kekerasan yang berulang justru mengancam keseluruhan proses transisi di Suriah, memperdalam penderitaan warga dan memperluas gelombang pengungsian yang sudah cukup besar di berbagai bagian negara.
Sementara itu, Gubernur Aleppo Azzam Gharib melakukan kunjungan lapangan bersama pejabat tinggi lain untuk meninjau kekuatan keamanan internal di Ashrafieh. Ia menyatakan bahwa pasukan keamanan berkomitmen untuk melindungi properti warga dan mengamankan lingkungan sebagai langkah awal menuju kembalinya kehidupan normal.
Gharib menekankan pentingnya perlakuan yang layak terhadap penduduk dan memastikan bahwa pengamanan dilakukan dengan cara yang menghormati kepercayaan warga terhadap institusi negara. Pernyataan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menguatkan legitimasi kontrolnya di kawasan yang selama ini diperebutkan.
Gubernur juga mengatakan bahwa koordinasi sedang dilakukan untuk mengatur kembalinya warga ke rumah mereka secara aman dan teratur, dengan instruksi resmi yang akan diumumkan melalui saluran pemerintah yang sesuai.
Kendati demikian, kondisi di lapangan tetap tegang dan situasi kemanusiaan semakin mendesak. Akses dasar seperti listrik, air, dan layanan medis sangat terganggu di banyak bagian Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh, memaksa bantuan kemanusiaan untuk mencari jalur ke kawasan yang sulit dijangkau.
Dengan bentrokan yang terus berlangsung dan upaya pemerintah memperluas kendalinya, masa depan kedua lingkungan ini tetap berada di ujung tanduk, menunggu apakah stabilitas dapat benar-benar dipulihkan atau konflik akan kembali memuncak di tengah ketidakpastian politik yang lebih luas di Suriah.
0 Komentar