PLC Yaman Targetkan Keamanan Abyan dan Shabwa Kembali Pulih

Abyan dan Shabwa bukan wilayah pinggiran dalam sejarah Yaman selatan. Sejak era Kesultanan hingga Republik Demokratik Rakyat Yaman, dua provinsi ini selalu menjadi jantung perlintasan politik, militer, dan kabilah yang menentukan stabilitas kawasan selatan.

Abyan, yang membentang di timur Aden, sejak lama dikenal sebagai wilayah penyangga ibu kota selatan. Pada masa kolonial Inggris, Abyan menjadi hinterland strategis Aden, sekaligus ladang perebutan pengaruh antara otoritas pusat dan kekuatan lokal bersenjata.

Sementara itu Shabwa memiliki sejarah lebih tua dan kompleks. Wilayah ini merupakan bagian penting dari peradaban kuno Hadramaut dan jalur dagang selatan Arabia. Pada era modern, Shabwa menjadi simbol kekayaan energi karena cadangan minyak dan gasnya, sekaligus titik temu antara Yaman timur dan selatan.

Pasca penyatuan Yaman tahun 1990, Abyan dan Shabwa sering berada di garis depan konflik antara pusat dan daerah. Perang saudara 1994, kebangkitan Al-Qaeda di Jazirah Arab, hingga konflik pasca-2015 menjadikan dua provinsi ini medan pertempuran berlapis.

Dalam konteks terkini, fokus Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman atau PLC terhadap Abyan dan Shabwa tidak terlepas dari melemahnya pengaruh Dewan Transisi Selatan atau STC di wilayah timur. Setelah Al-Mahrah dan Hadramaut kembali berada di bawah kendali pemerintah sah, perhatian beralih ke simpul-simpul strategis berikutnya.

Abyan dipandang krusial karena menjadi koridor utama antara Aden dan wilayah timur. Selama STC memiliki ruang gerak di Abyan, stabilitas Aden selalu berada dalam bayang-bayang tekanan milisi separatis yang mampu memutus jalur logistik dan keamanan.

Shabwa memiliki dimensi berbeda. Kesetiaan elite lokal dan kabilah Shabwa kepada Republik Yaman memberi peluang bagi pemerintah, dengan dukungan Arab Saudi, untuk menjadikannya model pemulihan otoritas negara di selatan. Pengibaran bendera nasional di Shabwa menjadi pesan politik yang kuat terhadap proyek separatis.

Kabilah memainkan peran sentral dalam dinamika ini. Di Abyan, kabilah-kabilah besar seperti Al-Fadhli, Al-Awaliq cabang barat, dan Al-Yazidi memiliki pengaruh luas terhadap keamanan lokal. Loyalitas mereka kerap menentukan siapa yang berkuasa di lapangan.

Di Shabwa, kabilah Al-Awaliq cabang timur menjadi aktor utama, disertai kabilah Balharith, Bani Hilal, dan Al-Talh. Sebagian besar kabilah ini menolak dominasi milisi luar dan lebih memilih bernegosiasi dengan pemerintah pusat selama kepentingan lokal dihormati.

Dukungan Arab Saudi terhadap PLC terlihat dalam penguatan pasukan keamanan nasional dan restrukturisasi aparat lokal. Pendekatan ini berbeda dengan strategi konfrontatif langsung, dengan mengutamakan kooptasi kabilah dan legitimasi negara.

Video yang beredar menegaskan narasi bahwa pengaruh militer STC mulai menyusut di Yaman timur. Di Al-Mahrah dan Hadramaut, pasukan al-Intiqali dipaksa mundur, sementara fasilitas vital kembali dikelola negara.

Pernyataan keras Gubernur Hadramaut, Salem Al-Khanbashi, mencerminkan kepercayaan diri pemerintah daerah setelah mendapat dukungan penuh dari pusat dan koalisi Arab. Pesan ini juga diarahkan ke Abyan dan Aden sebagai peringatan politik.

Pertanyaan kemudian muncul mengapa Lahej tidak langsung menjadi fokus utama. Lahej memiliki struktur sosial yang lebih terfragmentasi dan ikatan STC yang lebih mengakar, terutama karena kedekatannya dengan Aden dan basis awal gerakan separatis.

Berbeda dengan Abyan, di Lahej pengaruh kabilah sering kali berkelindan langsung dengan struktur milisi STC. Langkah tergesa di Lahej dikhawatirkan memicu eskalasi luas yang justru mengancam stabilitas Aden.

Karena itu, strategi PLC dan Arab Saudi tampak bertahap. Mengamankan Abyan lebih dahulu berarti mempersempit ruang manuver STC dan memisahkan basis mereka di Aden dari hinterland pendukung.

Shabwa, di sisi lain, digunakan sebagai contoh keberhasilan pendekatan negara. Stabilitas relatif di provinsi ini diharapkan menjadi magnet politik bagi wilayah selatan lain untuk kembali ke kerangka Republik Yaman.

Pendekatan ini juga memiliki dimensi regional. Arab Saudi berkepentingan mencegah munculnya entitas separatis bersenjata di perbatasan selatannya yang berpotensi membuka ruang bagi aktor regional lain.

Dengan menguatnya kendali pemerintah di Abyan dan Shabwa, PLC berusaha membangun kembali peta kekuasaan selatan yang lebih terpusat, tanpa harus terjebak dalam perang terbuka dengan STC.

Namun tantangan tetap besar. Loyalitas kabilah bersifat dinamis, dan stabilitas keamanan sangat bergantung pada konsistensi dukungan politik dan ekonomi dari pusat.

Abyan dan Shabwa kini bukan sekadar medan konflik, melainkan barometer apakah negara Yaman mampu kembali hadir di selatan, atau justru membuka babak baru persaingan kekuasaan yang lebih rumit.

Baca selanjutya

Posting Komentar

0 Komentar