Nasib Mirip Roket Zhuque‑3 dan Long March 12A

China kembali menunjukkan ambisinya dalam teknologi roket reusable dengan dua proyek penting: LandSpace Zhuque‑3 dan Long March 12A. Kedua roket ini berhasil mencapai orbit sesuai rencana, tetapi upaya mendaratkan tahap pertama mengalami kegagalan. Fenomena ini menarik perhatian pengamat antariksa, karena menggambarkan tantangan teknis yang dihadapi China dalam mengejar teknologi roket modern seperti yang diperkenalkan oleh SpaceX.

LandSpace Zhuque‑3 adalah roket orbital reusable buatan swasta China yang dirancang untuk membawa muatan ke orbit rendah bumi sekaligus memulihkan tahap pertama. Pada penerbangan perdananya, roket berhasil menempatkan muatan ke orbit, tetapi booster tahap pertama gagal melakukan pendaratan vertikal yang telah direncanakan. Kegagalan ini terjadi karena kendali mesin dan manuver pendaratan tidak sesuai dengan prediksi, sehingga booster jatuh dan hancur.

Sementara itu, Long March 12A adalah roket peluncur medium-lift tradisional Tiongkok yang mulai dikembangkan dengan versi yang bisa digunakan ulang. Seperti Zhuque‑3, roket ini berhasil mengirimkan muatan ke orbit, namun tahap pertama gagal mendarat. Kejadian ini menandai momen penting bagi program reusable Tiongkok, karena menunjukkan bahwa bahkan roket yang dikembangkan oleh lembaga negara masih menghadapi tantangan serupa seperti roket swasta.

Perbandingan antara Zhuque‑3 dan Long March 12A menunjukkan persamaan dan perbedaan yang signifikan. Kedua roket mampu membawa satelit ke orbit, tetapi keduanya belum berhasil memulihkan tahap pertama. Zhuque‑3 memiliki desain swasta dan lebih kecil, sedangkan Long March 12A merupakan proyek pemerintah dengan ukuran lebih besar dan pengalaman teknis yang panjang.

Kegagalan pendaratan tahap pertama pada kedua roket ini menegaskan bahwa memasuki orbit bukanlah satu-satunya tantangan dalam peluncuran roket reusable. Pengendalian booster agar bisa mendarat vertikal memerlukan akurasi navigasi, kontrol mesin yang presisi, dan sistem pendorong yang dapat meredam kecepatan sebelum menyentuh tanah.

LandSpace menghadapi kendala karena desain roketnya relatif baru dan belum memiliki pengalaman historis seperti SpaceX. Sementara Long March 12A, meski didukung pemerintah, juga menghadapi kesulitan teknis dalam menyesuaikan sistem eksisting untuk pendaratan ulang. Teknologi ini menuntut presisi tinggi, sehingga kegagalan awal adalah hal yang wajar dan bagian dari proses pembelajaran.

Dalam konteks sejarah, SpaceX pun mengalami kegagalan serupa pada awal pengembangan Falcon 9. Beberapa percobaan mendarat di kapal dan di darat mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil secara konsisten. Pola ini menunjukkan bahwa kegagalan awal bukan indikator kegagalan total, tetapi bagian dari iterasi pengembangan teknologi reusable.

Perbedaan utama antara kedua roket ini adalah skala dan pendekatan. Zhuque‑3 menekankan pada fleksibilitas swasta, dengan iterasi cepat untuk belajar dari setiap uji terbang. Long March 12A lebih berfokus pada stabilitas dan reliabilitas misi pemerintah, sehingga pendaratan ulang adalah tambahan teknologi baru yang sedang diuji.

Meski sama-sama gagal mendarat, kedua roket berhasil mencapai orbit, menunjukkan bahwa sistem propulsi dan tahap kedua bekerja dengan baik. Ini penting karena misi utama—mengirim satelit ke orbit—tercapai, dan kegagalan pendaratan tahap pertama tidak mengganggu tujuan utama.

Pengamat antariksa menilai bahwa China kini berada di jalur yang sama seperti yang ditempuh SpaceX: fase awal penuh eksperimen, di mana setiap kegagalan menjadi pembelajaran berharga. Data dari uji coba pendaratan pertama ini akan digunakan untuk memperbaiki algoritma kontrol dan desain booster agar pendaratan berikutnya berhasil.

Teknologi reusable menuntut sinkronisasi antara propulsi, aerodinamika, dan software navigasi. Jika salah satu komponen tidak sempurna, booster tidak bisa mendarat dengan aman. Inilah yang terjadi pada Zhuque‑3 dan Long March 12A, meski sistem orbital bekerja sempurna.

Selain itu, kondisi atmosfer saat re-entry dan pengaturan ulang mesin pendorong memainkan peran krusial. Kedua roket gagal mendarat sebagian karena perhitungan ulang kecepatan dan sudut descent tidak tepat, sehingga pendaratan menjadi tidak stabil.

LandSpace, sebagai perusahaan swasta, menekankan kecepatan iterasi dan pengembangan teknologi baru. Sementara Long March 12A masih menggunakan pendekatan pemerintah yang lebih hati-hati dan birokratis, sehingga penyesuaian untuk pendaratan reusable memakan waktu lebih lama.

Kedua proyek ini menunjukkan bahwa Tiongkok serius dalam mengejar teknologi roket reusable, meski tantangan teknis sangat besar. Keberhasilan menempatkan muatan ke orbit tetap menjadi pencapaian signifikan dan membuktikan kapasitas teknologi propulsi mereka.

Analisis teknis menunjukkan bahwa pendaratan ulang booster adalah fase paling sulit dalam misi roket reusable. Semua elemen harus bekerja serentak: dorongan mesin harus dikendalikan, sudut pendaratan harus tepat, dan sistem navigasi harus akurat. Ketidaksempurnaan kecil bisa menyebabkan kegagalan.

LandSpace dan Long March 12A menghadapi tantangan serupa meskipun skala dan sumber daya berbeda. LandSpace memiliki fleksibilitas tinggi dan risiko eksperimental, sedangkan Long March 12A membawa nama pemerintah dan mengandalkan pengalaman teknis tradisional.

Pembaruan teknologi dari kedua roket ini akan memengaruhi masa depan peluncuran satelit China. Jika pendaratan tahap pertama berhasil pada uji berikutnya, China akan menambah kemampuan reusable yang dapat menurunkan biaya peluncuran dan meningkatkan frekuensi misi.

Selain itu, keberhasilan pendaratan ulang akan memungkinkan China menyaingi SpaceX dalam teknologi reusable, baik dari sisi komersial maupun militer, karena booster dapat digunakan kembali dan biaya operasional berkurang drastis.

Para ilmuwan dan insinyur kini fokus pada perbaikan kontrol booster dan sistem pendaratan, termasuk software navigasi, desain kaki pendaratan, dan manuver retrorocket, agar pendaratan tahap pertama Zhuque‑3 dan Long March 12A berikutnya berhasil.

Kegagalan awal ini juga menjadi pelajaran penting bagi industri roket global, karena menunjukkan bahwa pengembangan teknologi reusable bukan sekadar masalah propulsi, tetapi integrasi seluruh sistem yang sangat kompleks.

Dengan setiap uji coba, data baru diperoleh untuk iterasi berikutnya. LandSpace dan Long March 12A kini berada di fase pembelajaran kritis, di mana setiap kegagalan mempercepat kemampuan mereka untuk melakukan pendaratan booster dengan sukses di masa depan.

Secara keseluruhan, meski pendaratan tahap pertama gagal, kedua roket ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi luar angkasa China, dan keberhasilan menempatkan satelit ke orbit adalah bukti kemampuan propulsi yang matang. Kegagalan pendaratan hanyalah bagian dari proses menuju teknologi reusable yang stabil dan andal.

Posting Komentar

0 Komentar