Melihat Gaya Kepemimpinan Wapres Gibran dan JD Vance

JAKARTA - WASHINGTON, Persaingan kepemimpinan kini bukan hanya terjadi di level presiden. Wakil presiden juga menjadi sorotan, terlebih dengan munculnya dua sosok muda: Gibran Rakabuming Raka di Indonesia dan JD Vance di Amerika Serikat. Keduanya sama-sama mewakili generasi baru dalam politik nasional, dengan gaya dan latar belakang yang sangat berbeda.

Gibran, putra sulung Presiden Joko Widodo, menapaki karier politiknya dari tingkat lokal sebagai Wali Kota Solo sebelum akhirnya melesat ke panggung nasional sebagai Wakil Presiden RI 2024-2029. Sementara JD Vance, dikenal sebagai penulis buku Hillbilly Elegy dan pengusaha teknologi, terjun ke politik dan menjadi Senator Ohio sebelum mendampingi Presiden AS sebagai Wapres.

Dari sisi gaya kepemimpinan, Gibran dikenal kalem dan santun, sering menggunakan bahasa-bahasa sederhana dalam komunikasinya. Ia mengandalkan pendekatan personal dan merakyat, meski kerap dikritik karena minim pengalaman di level nasional. JD Vance, sebaliknya, lebih vokal, tajam dalam berargumentasi, dan tidak segan mengkritik elit Washington.

Dalam berbagai kesempatan, Gibran lebih memilih untuk membangun citra pemimpin muda progresif. Ia fokus pada isu digitalisasi layanan publik, pengembangan UMKM, dan ekonomi kreatif. JD Vance fokus pada ekonomi rakyat Amerika pedalaman, dengan menekankan pentingnya proteksi industri dalam negeri dan pengurangan ketergantungan pada China.

Popularitas Gibran di dalam negeri cukup tinggi, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Kedekatannya dengan Jokowi menjadi modal besar dalam membangun basis dukungan. Survei pasca Pilpres 2024 menunjukkan tingkat kepuasan publik atas terpilihnya Gibran mencapai 65%, angka yang stabil hingga awal 2025.

JD Vance menghadapi tantangan lebih besar soal popularitas. Meskipun memiliki basis kuat di negara bagian konservatif, ia masih berjuang meningkatkan citra di wilayah urban dan kalangan liberal. Survei nasional di AS mencatat popularitas Vance di angka 45%, dengan kecenderungan naik di kalangan pemilih muda dan pekerja industri.

Dalam hal akses ke kebijakan, Gibran dihadapkan pada peran wapres yang cenderung seremonial, kecuali jika diberi porsi lebih oleh presiden. Namun, banyak pengamat menilai Gibran akan diberi ruang besar di isu ekonomi digital dan pembangunan daerah. JD Vance, sebagai wapres di sistem federal, memiliki pengaruh lebih langsung dalam pembuatan kebijakan, khususnya di Senat AS.

Capaian yang dapat dilakukan Gibran untuk mengungguli JD Vance adalah memperkuat perannya sebagai jembatan antara pemerintah pusat dan daerah. Jika Gibran sukses mendorong inovasi layanan publik, memperkuat ekonomi desa, dan mencetak keberhasilan nyata di sektor digital, ia bisa mendapat legitimasi kuat sebagai pemimpin masa depan.

Di bidang komunikasi politik, Gibran masih dianggap pasif. Ia jarang tampil dalam debat publik atau menyuarakan pendapat tajam. JD Vance sebaliknya, aktif di media sosial dan media massa, menyuarakan isu-isu kontroversial yang membuatnya dikenal luas, meski tak selalu positif.

Namun, Gibran unggul dalam simpati publik. Sosoknya yang rendah hati dan tidak banyak bicara justru disukai sebagian rakyat Indonesia yang cenderung menyukai pemimpin sederhana. JD Vance, meskipun cerdas dan artikulatif, kerap dikritik karena gaya komunikasinya yang dianggap terlalu agresif.

Gibran juga memiliki kelebihan dalam memahami kultur lokal dan kekuatan politik berbasis komunitas. Hal ini memudahkannya untuk menggerakkan program-program sosial dan ekonomi rakyat. JD Vance, meski paham soal ekonomi, kerap dipandang sebagai bagian dari elit baru yang menjauh dari rakyat.

Salah satu tantangan Gibran adalah membuktikan bahwa dirinya bukan hanya “putra Jokowi,” tetapi pemimpin yang berdiri sendiri. Untuk itu, ia harus berani mengambil inisiatif kebijakan, turun ke lapangan, dan membangun jejaring politik di luar bayang-bayang sang ayah.

Gibran juga bisa unggul dengan memperkuat diplomasi internasional, terutama di kawasan Asia Tenggara. Jika ia mampu menjadi wajah baru Indonesia di mata dunia, khususnya dalam isu teknologi hijau dan ekonomi digital, maka posisinya di panggung internasional bisa melejit, melampaui JD Vance.

Dalam hal ketahanan politik, JD Vance lebih terbiasa dengan tekanan politik tingkat tinggi di AS. Gibran masih harus mengasah kemampuannya dalam menghadapi dinamika politik nasional yang fluktuatif, terutama tekanan dari partai koalisi dan parlemen.

Secara ekonomi, JD Vance fokus pada industri dan energi. Gibran bisa mengambil keunggulan dengan mendorong ekonomi kreatif dan pertumbuhan ekonomi inklusif yang merata. Hal ini akan membawanya lebih dekat ke rakyat dan memperkuat legitimasinya.

Jika Gibran mampu menciptakan legacy program seperti “Desa Digital Nasional” atau “UMKM Go Global,” maka ia bisa mencatatkan prestasi lebih konkret daripada JD Vance yang masih mencari pijakan program besar.

Akhirnya, perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua wapres memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Gibran bisa lebih unggul jika mampu memaksimalkan posisinya untuk menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat. Sementara JD Vance tetap menjadi tokoh penting di politik AS dengan pengaruh strategis yang besar.

Publik Indonesia berharap, Gibran tidak hanya menjadi simbol regenerasi politik, tapi juga motor perubahan nyata di Tanah Air. Waktu akan menjadi penentu: siapa di antara keduanya yang bisa melesat menjadi pemimpin masa depan dengan pengaruh global?

Dibuat oleh AI

Posting Komentar

0 Komentar