Namun belakangan Daraa pula yang pertama rekonsiliasi dengan rejim Bashar Al Assad.
Saat itu, oposisi memang terpecah belah khususnya soal jabatan kepemimpinan.
Daraa yang menjadi oposisi di selatan Suriah merasa terpinggirkan sehingga memilih untuk rekonsiliasi.
Beda dengan oposisi di Ghouta yang juga di selatan yang akhirnya menyerah dan diungsikan ke utara.
Selain Daraa terdapat oposisi lainnya di Rukban yang selamat karena menjadi pangkalan militer AS dan koalisi.
Patut juga diingat bahwa tidak saja Daraa yang kecewa dengan kepemimpinan oposisi saat itu tapi juga kalangan Kurdi yang kemudian berhasil dimaterialisasi oleh YPG dengan membentuk SDF.
Di Idlib juga memilih untuk pemerintahan sendiri yang disebut Pemerintahan Penyelamat (SG) yang terpisah dari pemerintahan sementara (SIG) yang digagas oleh oposisi.
Belakangan 'pemerintahan' oposisi sudah mulai stabil dengan memberikan jabatan yang sama antara Arab dan Turkmen karena wilayag utara kebanyakan dihuni Turkmen.
Namun, langkah Daraa untuk rekonsiliasi tidak semulus dengan rekonsiliasi beberapa pihak lainnya.
Di antaranya pimpinan kabilah Baggara yang awalnya oposisi, namun karena tidak mendapat jabatan yang tepat akhirnya rekonsiliasi dan sekarang brigadenya Liwa Al Baghir menjadi milisi pemerintah yang didukung Iran dan Hezbollah.
Liwa Al Bagir kini menjadi penguasa Aleppo Timur yang berhasil disebut dari oposisi.
Sementara itu warga Daraa yang rekonsiliasi tidak sepenuhnya diberikan Assad posisi yang tepat kecuali jabatan di brigade kedelapan yang menjadi bagian dari Divisi kelima. Dipimpin oleh Ahmed Al Oudah.
Belakangan pasukan Al Oudah akhirnya diisolasi Rusia dan gajinya tidak diberikan.
Penyebabnya adalah rekonsiliasi yang tidak dilakukan sepenuhnya.
Saat para Kabilah Baggara rekonsiliasi dan membentuk Liwa Al Bagir semua anggotanya dapat amnesti dan tidak ada masalah lagi dengan pemerintah.
Namun tidak berlaku dengan Daraa. Pembunuhan ekstrajudisial terus dilakukan kepada warga khususnya eks warga yang pernah duduki jabatan penting di oposisi Daraa yang nota bene adalah eks militer Assad sendiri.
Akhirnya saling balas pun terjadi dan akhirnya Daraa kembali memanas usai kebanyakan warga memilih golput di pilpres Suriah kemarin.
Banyak yang memperkirakan tindakan warga Daraa ini sangat nekat dan mengarah ke bunuh diri karena dalam rekonsiliasi kemarin praktis persenjataan berat dari Daraa sudah ditarik.
Rusia dan Iran juga bersiap untuk masuk karena beberapa negosiasi akhirnya gagal dilaksanakan.
Namun beberapa pengamat memperkirakan bahwa warga Daraa terpaksa untuk melakukan perlawanan karena pemerintah ternyata masih 'menggerakkan' secara diam-diam tim pembunuh alias death scuad untuk menghabisi warga yang jelas sudah rekonsiliasi.
0 Komentar