Dendam TPLF yang sekarang bernama TDF itu memuncak kepada Eritrea karena menurunkan pasukan mendukung militer Ethiopia yang memberontak karena permasalahan pemilu.
Namun, beberapa pengamat meyakini TPLF tak akan berani rebut Addis Ababa walau sudah pernah melakukannya saat menumbangkan rejim komunis sebelumnya.
Saat itu bahkan TPLF dengan menciptakan koalisi proxi dari berbagai negara bagian menjadi partai penguasa dan menguasai hampir 90 persen jabatan dan kekayaan negara.
Namun, saat itu TPLF didukung oleh kekuatan etnik Amhara yang merupakan eks penguasa Ethiopia di era Imperium Ethiophia yang ditumbangkan komunis.
Kini etnik Amhara mendukung penuh PM Abiy Ahmed dan pasukan pemeringah ENDF, walau PM Abiy Ahmed merupakan orang Oromo.
Secara demografi, etnik Oromo merupakan yang terbesar di Erhiopia disusul Amhara.
Namun begitu di Oromo terdapat kelompok pemberontak lokal gang kuat bernama OLA. Namun OLA dulunya juga merupakasan musuh TPLF saat berkuasa.
Walau OLA dapat mengambil keuntungan dari kesibukan ENDF menumpas TPLF, namun sejatinya itu bukan terkoordinasi.
Kesulitan TPLF berikutnya adalah PM Abiy Ahmed saat ini juga mulai berhasil menciptakan pasukan lokal Oromo yang lebih kuat. Di Ethiopia setiap negara bagian mempunyai pasukan sendiri yang kira-kira ekuivalen dengan Satpol PP di Indonesia.
Namun pasukan lokal di negara bagian Ethiopia mempunyai persenjataan lengkap sesuai dengan APBD masing-masing dan juga mempunyai milisi yang kuat.
Pasukan lokal itu juga terdiri dari matra kepolisian dan tentara.
Walau TPLF akan mampu mendirikan 'negara paralel' di Tigray, namun momentum untuk kembali menjadi penguasa di Ethiopia sudah hilang.
0 Komentar