Walaupun banyak yang anggap Amerika Serikat sebagai pihak yang kalah di konflik Suriah, namun seorang diplomat AS meyakini justru Turki adalah pihak yang kalah.
Argumen yang mengatakan bahwa AS adalah pihak yang kalah karena tujuan awal keterlibatan AS di Suriah adalah untuk pergantian rejim atau regime change.
Namun, keterlibatan AS malah membuat Bashar Al Assad semakin kuat dan menguasai hampir 65 persen wilayah Suriah dari 15 persen di tahun 2015.
Walaupun AS merasa menang dengan penguasaan 70 persen migas Suriah bersama pasukan SDF saat mengusir ISIS, menurut pengamat tidaklah sesuai dengan tujuan awal. Bahkan belakangan AS menyatakan tidak lag ingin menggulingkan Assad, tapi hanya ingin mengubah perilakunya.
Perubahan tiba-tiba kebijakan AS ini membuat posisi oposisi semakin tertekan. Itu artinya Assad menjadi lebih bebas melanjutkan kebijakan otoriternya.
Sementara argumen yang mengatakan bahwa AS adalah pemenang adalah selain penguasaan lapangan migas Suriah, AS juga berhasil mendirikan pemerintahan alternatif NES/SDF di Suriah Timur.
Itu seperti AS mendirikan Kurdistan di Irak di awal perang teluk.
AS juga melihat Turki adalah pihak yang kalah dan paling dirugikan.
Hal itu karena Turki menjadi pihak yang menanggung jutaan pengungsi Suriah tapi tidak mendapat keuntungan apa-apa dai konflik.
Wilayah buffer zones di utara Suriah yang dibebaskan dengan banyak korban tidak mengandung kekayaan alam signifikan seperti kandungan minyak.
Selain itu, Turki juga rugi karena kelompok pemberontak PKK yang mempunyai cabang YPG di Suriah kini menjadi kekuatan besar di SDF yang bisa menjadi ancaman bagi eksistensi Turki.
AS berhasil mendirikan monster di Suriah yang sewaktu-waktu bisa melahap Turki namun akan jinak ke kebijakan AS dan sekutunya.
Selain itu AS juga punya wilayah luas di Al Tanf/Al Rukban di luar kendali SDF namun di bawah penguasaan oposisi yang loyal ke AS. Al Tanf bisa dibuat sebagai pangkalan mengamati pergerakan Iran di sekitarnya.
0 Komentar