Ketika YPG/PKK Menjadi 'Superpower' Baru di Timur Tengah Pasca ISIS

YPG yang merupakan cabang Suriah dari kelompok pemberontak PKK Turki, kini tumbuh menjadi 'superpower' baru pasca era ISIS di Timur Tengah.

Tak tanggung-tanggung, Turki dan Irak baru-baru ini harus bergandengan tangan untuk dapat mengimbangi YPG yang di Suriah mempunyai militer kuat bernama SDF.

Secara ekonomi, pemerintahan SDC/AANES yang didirikan SDF berpotensi menjadi 'pemerintahan' terkaya bahkan dari rejim Bashar Al Assad.

Walau hanya menguasai 30 persen wilayah Suriah yang sebagian besar direbut dari ISIS, tapi SDC/AANES menguasia 70 persen SDA migas Suriah.

Ini menjadi kekuatan baru bagi PKK yang hadir sebagai oposisi di wilayah Kurdistan Irak, walau beberapa laporan menyebut sebagian kelompok PKK Irak akan diintegrasikan ke sistem Hansip (PMO) di Irak.

Selain SDA, pemerintahan SDC/AANES menjadi 'lebih mengerikan' dengan dukungan AS dan koalisinya dari NATO dan Eropa.

Di lain sisi, SDC juga mempunyai hubungan erat yang kuat dengan negara-negara Arab dari Teluk seperti UEA, Arab Saudi dll dan yang terpenting tidak menjadi musuh utama rejim Bashar Al Assad dan Rusia/Iran.

Yang menarik adalah selain sebagai penyeimbang rejim Bashar Al Assad, SDC/SDF juga menjadi kontender untuk kekuatan Iran, ISIS di kawasan sekaligus secara tidak langsung kepada Irak yang didominasi Syiah dan Turki yang belakang ditakutkan sebagai pusat berkembangnya kejayaan masa lalu 'Ottomanisme'.

Secara keagamaan, orang Kurdi di Suriah sebagaimana kebanyakan Sunninya merupakan penganut mayoritas mazhab Syafiiyah yang sudah beberapa kurun menjadi mazhab nomor dua.

Mereka juga mempunyai hubungan sejarah dengan Dinasti Ayyubiyah yang pernah menjadi kekuatan utama era Abbasiyah sebelum ditaklukkan Mamluk dan akhirnya dikuasai Turki Ottoman.

Walaupun kebangkitan Kurdi Suriah dapat diidentikkan dengan kebangkitan kekuatan 'Saladin' Ayyubiyah, namun masa depan SDC/SDF sangat menarik untuk dicermati khususnya bagaimana mereka akan memainkan perannya untuk mensukseskan agenda-agenda AS di kawasan sebagaimana dilakukan oleh Arab Saudi dan Israel sebagaimana rezim Shah Pahlevi di Iran dulu.



Posting Komentar

0 Komentar