Dalam konflik pendudukan secara ilegal wilayah Azerbaijan oleh Armenia terlihat ketimpangan media.
Armenia menduduki 20 persen wilayah Azerbaijan di termasuk Nagorno Karabakh.
Bagaimana bisa negara yang menguasai sebagian wilayah negara lain malah dianggap sebagai korban saat Azerbaijan ingin rebut kembali wilayahnya?
Jawabannya adalah kekuatan media Armenia yang direlai oleh TV mainstream. Posisi Azerbaijan yang seharusnya menjadi korban konflik dan diakui secara eksplisit oleh media mainstream termasuk RT Russia malah diframing sebagai agresor.
Ibarat pemilik rumah yang kemalingan malah diteriaki maling oleh rekan-rekan malaing tersebut saat mengejar perampoknya.
Hanya media Turki TRT World dan Aljazeera yang memberitakan informasi seimbang dan dibantu dengan akun-akun media sosial di Twitter, Youtube dan Facebook.
Sebuah media Azerbaijan belakangan mulai menarik perhatian khususnya edisi bahasa Inggrisnya. Namanya CBC TV Azerbaijan dan dimiliki oleh perusahaan minyak BUMN lokal.
Azerbaijan dengan kapasitas ekonominya yang besar sudah seharusnya memiliki media TV berbahasa Inggris yang representatif untuk menjelaskan posisi negaranya, sebagaimana Press TV milik Iran.
CBC TV Azerbaijan kini juga hadir di Youtube namun sayangnya tidak live. Kelihatannya, acaranya hanya terjemahan dari versi bahasa Azeri.
Padahal bila Azerbaijan dapat mengembangkannnya menjadi lebih besar, maka itu dapat membuat mata dunia melihat dengan benar apa sebenanrnya yang terjadi di sana.
0 Komentar