Scud Tua Afghanistan, Apakah Masih Berfungsi?


Keberadaan rudal balistik Scud di berbagai negara konflik kerap menimbulkan pertanyaan serupa: mengapa di Libya dan Irak Scud masih bisa ditembakkan, sementara di Afghanistan kemampuannya diragukan. Jawabannya tidak sesederhana usia senjata, melainkan terletak pada ekosistem militer yang menopangnya.

Scud merupakan produk Perang Dingin yang dirancang Uni Soviet sejak 1950-an. Meski tergolong tua, rudal ini masih digunakan atau setidaknya diuji coba di sejumlah negara hingga dekade terakhir. Namun, usia teknis bukan faktor tunggal yang menentukan apakah Scud masih bisa berfungsi.

Libya dan Irak adalah contoh negara yang mewarisi Scud bukan hanya sebagai benda fisik, tetapi sebagai sistem lengkap. Pada masa Muammar Qaddafi dan Saddam Hussein, kedua negara membangun unit rudal balistik dengan struktur organisasi, personel, dan fasilitas pendukung yang relatif utuh.

Di Libya, meski negara runtuh pasca-2011, banyak teknisi dan personel lama tetap tinggal. Mereka menyimpan pengetahuan praktis tentang pengoperasian Scud, mulai dari perawatan hingga prosedur peluncuran. Inilah yang memungkinkan uji coba terbatas tetap dilakukan.

Irak menunjukkan pola serupa. Sejumlah milisi diketahui merekrut atau memanfaatkan mantan personel Angkatan Darat era Saddam yang pernah bertugas di unit rudal. Keahlian manusia ini menjadi aset jauh lebih penting daripada rudal itu sendiri.

Faktor paling krusial adalah bahan bakar. Scud menggunakan bahan bakar cair UDMH dan oksidator IRFNA yang sangat korosif dan berbahaya. Libya dan Irak, setidaknya pada fase tertentu, masih memiliki stok, akses, atau kemampuan menangani bahan bakar ini.

Selain bahan bakar, kendaraan peluncur atau TEL Scud juga menjadi penentu. TEL adalah sistem berat dengan hidrolik kompleks. Di Libya dan Irak, bengkel berat dan praktik kanibalisasi suku cadang masih memungkinkan TEL berfungsi meski terbatas.

Uji coba Scud di Libya umumnya bersifat simbolik. Peluncuran dilakukan satu atau dua kali, sering kali dengan jangkauan dipendekkan dan tanpa tuntutan akurasi. Tujuannya lebih pada demonstrasi kemampuan daripada kesiapan tempur.

Irak pun menunjukkan pola serupa. Peluncuran Scud oleh milisi bukan bagian dari doktrin militer modern, melainkan pesan politik dan psikologis. Efek simbolik Scud jauh lebih besar dibanding nilai militernya saat ini.

Situasi ini sangat berbeda dengan Afghanistan. Negara tersebut memang pernah memiliki Scud pada era Soviet, tetapi ekosistemnya hancur total sejak awal 1990-an. Unit, personel, fasilitas, dan rantai pasok tidak lagi eksis.

Afghanistan tidak memiliki akses bahan bakar roket cair, tidak memiliki teknisi khusus, dan tidak memiliki fasilitas pengisian yang aman. Tanpa elemen ini, Scud secara praktis berubah menjadi besi tua bersejarah.

Kendaraan peluncur di Afghanistan juga diyakini sudah lama tidak berfungsi. Sistem hidrolik, elektronik analog, dan komponen mekanis yang dibiarkan puluhan tahun tanpa perawatan hampir pasti mengalami kegagalan total.

Perbedaan lain terletak pada doktrin. Militer Afghanistan yang baru di bawah pemerintahan Taliban mengandalkan mobilitas cepat dan senjata ringan. Scud yang besar, lambat disiapkan, dan mudah terdeteksi justru bertentangan dengan pola perang gerilya.

Sebaliknya, milisi di Libya dan Irak sering beroperasi di wilayah luas dengan basis tetap, sehingga masih memungkinkan melakukan persiapan peluncuran meski dengan risiko tinggi.

Perbandingan dengan Yaman juga relevan. Houthi mampu mengoperasikan dan memodifikasi Scud karena mewarisi industri rudal negara, teknisi terlatih, serta fasilitas yang masih aktif. Afghanistan tidak memiliki keuntungan serupa.

Hal ini menunjukkan bahwa keberlangsungan Scud bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh keberlanjutan ekosistem pendukungnya. Rudal balistik adalah senjata sistemik, bukan senjata individual.

Ketika Afghanistan memamerkan atau mengerahkan Scud, langkah itu lebih tepat dibaca sebagai pesan simbolik. Kehadiran Scud dimaksudkan untuk efek psikologis dan propaganda, bukan sebagai ancaman operasional nyata.

Libya dan Irak membuktikan bahwa Scud masih bisa “hidup” jika manusia, logistik, dan pengetahuan tetap ada. Namun bahkan di sana, penggunaannya sangat terbatas dan jauh dari standar perang modern.

Dalam konteks ini, Scud lebih berfungsi sebagai peninggalan politik Perang Dingin daripada alat tempur efektif. Nilai strategisnya menurun drastis seiring berkembangnya sistem pertahanan udara dan pengawasan modern.

Kesimpulannya, Scud di Libya dan Irak masih bisa ditembakkan karena ekosistem militernya belum sepenuhnya mati. Afghanistan, sebaliknya, kehilangan ekosistem tersebut sejak lama.

Pelajaran utamanya jelas: senjata strategis tidak pernah berdiri sendiri. Tanpa manusia, industri, dan logistik, bahkan rudal balistik sekalipun hanyalah monumen tua di medan konflik modern.

Mencari Jejak Ahli Scud Afghanistan

Kemungkinan masih adanya ahli Scud di Afghanistan sering menjadi spekulasi setiap kali muncul kabar pengerahan rudal balistik lama. Pertanyaan ini tidak hanya menyangkut keberadaan individu, tetapi apakah keahlian tersebut masih relevan dan dapat diaktifkan kembali dalam kondisi saat ini.

Secara historis, Afghanistan memang memiliki personel yang dilatih Uni Soviet untuk mengoperasikan Scud pada 1980-an. Mereka merupakan bagian dari unit khusus yang menangani peluncuran, perawatan, dan logistik rudal balistik.

Namun, lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak sistem itu terakhir aktif. Banyak personel tersebut kini berusia lanjut, pensiun, atau telah meninggal dunia. Pengetahuan teknis yang mereka miliki pun sebagian besar tidak terdokumentasi dengan baik.

Kalaupun masih ada individu yang memahami prosedur dasar Scud, kemampuan mereka kemungkinan terbatas pada operasi lama. Sistem Scud membutuhkan tim, bukan satu orang ahli, dan mengandalkan koordinasi teknis yang kompleks.

Masalah terbesar bukan hanya keahlian manusia, tetapi lingkungan pendukungnya. Tanpa bahan bakar cair, fasilitas pengisian, dan peralatan uji, pengetahuan teknis tidak dapat diterapkan secara praktis.

Selain itu, komponen Scud yang tersisa di Afghanistan hampir pasti telah mengalami degradasi. Seal karet, sistem hidrolik, dan elektronik analog membutuhkan penggantian dan kalibrasi yang tidak mungkin dilakukan tanpa suku cadang.

Berbeda dengan Libya atau Irak, Afghanistan tidak memiliki jaringan bengkel berat atau industri militer yang bisa menopang upaya restorasi. Bahkan ahli berpengalaman sekalipun akan kesulitan bekerja tanpa alat dan material yang memadai.

Ada kemungkinan upaya mencari bantuan eksternal dilakukan, tetapi hal ini berisiko tinggi secara politik dan keamanan. Setiap aktivitas pemulihan Scud akan mudah terdeteksi oleh pengawasan internasional.

Karena itu, meski secara teori masih ada individu yang memahami Scud, peluang mereka untuk membuat sistem tersebut benar-benar berfungsi kembali sangat kecil. Hambatan struktural jauh lebih besar daripada hambatan keahlian personal.

Dalam praktiknya, Scud Afghanistan lebih mungkin tetap berfungsi sebagai simbol kekuatan masa lalu daripada senjata operasional. Tanpa ekosistem lengkap, keberadaan ahli saja tidak cukup untuk menghidupkan kembali rudal balistik era Perang Dingin.


Posting Komentar

0 Komentar