Beberapa Peristiwa Politik Setiap Dekade Yaman

Yaman kerap disebut sebagai negeri yang tak pernah benar-benar beristirahat dari konflik. Sejak awal abad ke-20, negara di ujung selatan Jazirah Arab ini seolah terjebak dalam siklus krisis yang berulang, di mana setiap sepuluh tahun selalu muncul perang, kudeta, atau gejolak politik besar yang mengubah arah sejarahnya. Stabilitas datang hanya sebagai jeda singkat, sebelum kembali pecah oleh perebutan kekuasaan, intervensi asing, atau konflik antarelite dan suku.

Dari jatuhnya kekuasaan Ottoman, perang saudara era Perang Dingin, penyatuan yang berujung perpecahan, hingga perang modern yang melibatkan kekuatan regional, Yaman tumbuh sebagai negara yang dibentuk oleh konflik itu sendiri. Pola inilah yang membuat banyak pengamat menyebut Yaman bukan sekadar negara konflik, melainkan negeri dengan “kutukan satu dekade”, di mana luka lama tak pernah sempat sembuh sebelum luka baru kembali tercipta.

Ungkapan bahwa Yaman tak pernah benar-benar tenang sejak 1920, dengan gejolak besar hampir tiap satu dekade, bukanlah berlebihan. Jika ditarik garis panjang sejarah modern Yaman, memang terlihat pola krisis berulang yang silih berganti antara perang, kudeta, intervensi asing, dan konflik internal. Berikut rangkaian peristiwa besar per dekade, disajikan secara kronologis dan naratif.

1920-an
Pada dekade ini, Yaman Utara berada di bawah Kekaisaran Mutawakkilite yang dipimpin Imam Yahya. Negara baru saja keluar dari bayang-bayang Ottoman, namun stabilitas rapuh. Konsolidasi kekuasaan dilakukan dengan kekerasan, dan perlawanan suku-suku mulai muncul, menandai awal ketegangan negara–suku yang akan terus berulang.

1930-an
Konflik regional meletus melalui Perang Saudi–Yaman (1934). Yaman kalah dan kehilangan wilayah Najran, Jizan, dan Asir. Perjanjian Taif menjadi luka historis yang memperdalam sentimen nasionalisme dan kecurigaan terhadap tetangga.

1940-an
Upaya kudeta pertama terjadi pada 1948 dengan pembunuhan Imam Yahya. Meski kudeta gagal, peristiwa ini membuka era konspirasi elite, militer, dan ulama yang kelak menjadi pola permanen politik Yaman.

1950-an
Muncul gerakan “Free Officers” yang terinspirasi Mesir dan Gamal Abdel Nasser. Ketegangan antara monarki tradisional dan nasionalisme Arab semakin tajam, menyiapkan ledakan besar dekade berikutnya.

1960-an
Perang Saudara Yaman Utara (1962–1970) pecah setelah revolusi menggulingkan monarki. Mesir mendukung kaum republik, Saudi mendukung royalist. Puluhan ribu tentara Mesir terlibat. Ini salah satu perang proxy terbesar Arab sebelum era modern.

1970-an
Yaman Selatan mengalami konflik internal berdarah, sementara Yaman Utara dilanda kudeta beruntun. Presiden Ibrahim al-Hamdi dibunuh (1977), disusul Ahmad al-Ghashmi (1978). Ali Abdullah Saleh naik ke tampuk kekuasaan di tengah kekacauan.

1980-an
Puncaknya adalah perang saudara Yaman Selatan 1986 yang sangat brutal dan menghancurkan elite politik Aden. Negara nyaris runtuh dari dalam, membuka jalan bagi penyatuan Yaman.

1990-an
Penyatuan Yaman Utara dan Selatan (1990) justru diikuti Perang Saudara 1994. Selatan kalah, namun rasa kalah itu menanam benih separatisme yang kelak muncul kembali sebagai STC.

2000-an
Muncul konflik Saada antara pemerintah dan Houthi (2004–2010). Enam perang berturut-turut terjadi. Negara kembali berperang melawan rakyatnya sendiri, kali ini dengan dimensi ideologis dan sektarian.

2010-an awal
Arab Spring 2011 menggulingkan Ali Abdullah Saleh secara de facto. Namun transisi gagal. Negara melemah, militer terbelah, dan aktor bersenjata non-negara menguat.

2014–2015
Houthi merebut Sanaa, memicu perang nasional dan intervensi koalisi pimpinan Saudi. Ini menjadi konflik terbesar dalam sejarah modern Yaman, menghancurkan negara secara struktural.

2016–2019
Muncul konflik internal kubu anti-Houthi. STC melawan pemerintah sah di Aden, Abiyan, Shabwa. Yaman kembali terpecah, bukan dua, tapi banyak pusat kekuasaan.

2020-an awal
Perang stagnan, ekonomi runtuh, mata uang terbelah, institusi lumpuh. Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC) dibentuk 2022, namun konflik elite berlanjut. Hadramaut, Mahra, Taiz, dan Aden menjadi episentrum ketegangan baru.

2023–sekarang
Yaman masuk fase “tanpa perang besar tapi tanpa damai”. Konflik bersenjata mereda, namun krisis politik, ekonomi, dan keamanan terus bergulir. Bandara tutup, pelabuhan stagnan, dan negara hidup dari bantuan.

Kesimpulan historisnya jelas
Sejak 1920, setiap dekade Yaman selalu memasuki krisis besar: perang regional, perang saudara, kudeta, atau fragmentasi negara. Tidak ada satu generasi pun yang tumbuh tanpa konflik struktural.

Inilah sebabnya Yaman bukan sekadar “negara konflik”, melainkan negara yang dibentuk oleh konflik itu sendiri. Tanpa rekonstruksi politik yang memutus siklus sepuluh tahunan ini, sejarah kemungkinan besar akan kembali berulang.

Posting Komentar

0 Komentar